Memeratakan Pendidikan Berkualitas

Memeratakan Pendidikan Berkualitas, Mewujudkan Insan Berkarakter, dan Memajukan Kebudayaan

Diposting pada

Memeratakan Pendidikan Berkualitas – Akhir Desember 2017 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy beserta jajarannya menyampaikan capaian kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam satu tahun. Selain sebagai bagian dari pertanggungjawaban terhadap publik, pemaparan capaian kinerja ini juga merupakan tradisi yang setiap tahun dilakukan. Sepanjang 2017 ini Kemendikbud berhasil mencapai target dan prestasi.

Memeratakan Pendidikan Berkualitas

Sebuah lembaga riset melakukan survei nasional kepada 2.400 responden pada November 2017. Riset itu dilakukan untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah di bidang pendidikan. Hasilnya sebanyak 67,9 persen menyatakan puas. Ada pula survei lain yang dilakukan oleh lembaga yang sama yang mengukur penilaian terhadap kinerja pemerintah dalam menangani masalah di masyarakat. Pertanyaan yang diajukan dalam survei itu adalah: Apakah kinerja pemerintah Jokowi-JK saat ini berhasil atau tidak berhasil dalam menangani masalah-masalah berikut ?

Ada sebanyak 14 masalah yang diajukan dalam survei tersebut untuk dijawab dengan ya, tidak, dan tidak tahu. Salah satu isu di bidang pendidikan dari 14 masalah itu adalah mengenai pendidikan yang terjangkau. Hasilnya, sebanyak 62 persen menilai isu tersebut berhasil ditangani pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Mendikbud mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan untuk membuat pendidikan terjangkau bagi semua pihak. Mulai dari penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada 17 juta siswa, baik yang berada di sekolah maupun di luar sekolah, anak yatim, piatu, serta siswa yang tinggal di panti asuhan.

Kebijakan lainnya adalah dengan asuransi pendidikan terbaik untuk anak dan memperluas akses sekolah. Caranya dengan membangun unit sekolah baru (USB) di daerah-daerah pinggir Indonesia, yaitu di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Menurut Mendikbud, lewat kebijakan pendidikan yang terjangkau itu, angka partisipasi sekolah menunjukkan peningkatan dalam lima tahun terakhir. Untuk tahun pelajaran 2016/2017, jumlah siswa putus sekolah menurun cukup signifikan dibandingkan tahun pelajaran sebelumnya, dari 269.320 menjadi 271.305 orang. Demikian pula dengan jumlah lulusan yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya semakin berkurang. Dari 912.978 orang pada tahun pelajaran 2015/2016 turun menjadi 822.177 orang pada tahun pelajaran 2016/2017.

Jumlah tersebut terus diupayakan menurun, sehingga diharapkan harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah masyarakat di Indonesia semakin meningkat. Selain di bidang pendidikan, capaian dalam bidang kebudayaan dan bahasa juga dipaparkan dalam taklimat media yang dihadiri oleh para wartawan media massa cetak, elektronik, dan daring tersebut. Pada bidang kebudayaan, misalnya, 2017 menjadi tahun penting karena pada April yang lalu UndangUndang Pemajuan Kebudayaan disahkan. Tahun ini pula Indonesia menjadi bagian penting dalam Festival Seni Europalia yang berlangsung di Belgia dan beberapa negara lain di Eropa. Sementara di bidang bahasa, Kemendikbud berhasil melakukan pengembangan kosakata sebanyak 108.000 dan 127.000 makna.

Penggunaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V secara daring FOKUS juga telah dimanfaatkan masyarakat secara luas. Rata-rata terdapat 25.881 pencarian kata pada portal dengan alamat kbbi.kemdikbud.go.id. Kemendikbud juga berhasil mengindentifikasi sebanyak 652 bahasa daerah di Indonesia. Dari 652 bahasa daerah tersebut, baru sebanyak 71 bahasa daerah yang telah dipetakan vitalitasnya. Dari peta itu, bahasa Jawa menjadi jumlah penutur terbanyak dengan persentase 31,79 persen. Diikuti bahasa Sunda dengan 15,14 persen, dan bahasa Melayu dengan 3.69 persen. Capaian Kemendikbud di bidang bahasa lainnya ditunjukkan dengan dihasilkannya 138 buku bahan bacaan literasi yang terdiri atas 15 buku bertema arsitektur, 1 buku kekayaan bahasa daerah, 24 buku kuliner, 23 buku lanskap perubahan sosial, 8 buku tentang tokoh, dan 67 buku cerita rakyat/cerita anak. Selain itu, untuk mendukung upaya intenasionalisasi bahasa Indonesia, sebanyak 200 pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) telah dikirim ke 22 negara yang disalurkan ke 79 lembaga di luar negeri.

Dalam rangka bulan bahasa yang jatuh seperti Oktober, Kemendikbud menggelar peringatan bulan bahasa yang diisi dengan sejumlah kegiatan, salah satunya penghargaan bahasa dan sastra. Sementara itu untuk mendukung pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional (GLN), Kemendikbud telah menyusun 10 naskah GLN. Seluruh program dan kebijakan yang dilakukan semata-mata untuk mewujudkan upaya Kemendikbud dalam memeratakan pendidikan berkualitas, mewujudkan insan berkarakter, dan memajukan kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *