Hukum Ibadah Umroh

Diposting pada

Umroh Desember – Setelah memahami pengertian umroh dan keutamaannya, pembahasan seterusnya adalah perihal apakah hukum umroh itu.

Hukum umroh ada 2, yakni perlu dan sunnah.
1. Disebut perlu andaikan ibadah umroh tersebut baru pertama kali dilakukan sehingga disebut sebagai Umratul Islam. Selain itu umroh gara-gara nazar terhitung disebut sebagai umroh wajib, jadi kecuali Anda sudah bernazar dapat menunaikan ibadah umroh andaikan sudah berhasil lakukan atau meraih hasil tertentu, maka hukum umroh tersebut jadi wajib
2. Disebut sunnah kecuali ibadah umroh tersebut dilakukan untuk ke dua kali dan selanjutnya dan terhitung bukan gara-gara nazar. Misalnya di th. ini Anda sudah menunaikan ibadah umroh yang pertama yang wajib, maka andaikan Anda mengidamkan dan dapat secara finansial di th. berikutnya, maka Anda dapat pergi umroh lagi namun andaikan tidak terhitung tidak apa-apa.
Namun kalangan ahli fiqih sepakat bahwa umroh perlu hukumnya bagi orang yang disyariatkan untuk menyempurnakan. Walaupun sebagian ulama punya beda pendapat perihal hukumnya apakah terhitung sunnah atau diwajibkan.

Apa Pendapat Ulama Mengenai Hukum Ibadah Umroh?

Pendapat Pertama: Hukum Umroh adalah Sunnah Mu`akkadah
Ulama yang berpendapat layaknya ini adalah Ibnu Mas’ud, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad (menurut salah satu versi pendapat), terhitung Abu Tsaur dan kalangan mazhab Zaidiyah.
Dalil-dalil Hukum Umroh adalah Sunnah Mu’akkadah
Pendapat para ulama ini berdasarkan sabda Nabi SAW kala ditanya perihal hukum lakukan umroh, apakah ia perlu atau tidak? Beliau menjawab,” Tidak. Namun kecuali kalian umroh, maka itu lebih baik.” Juga berdasarkan sabda Nabi SAW:

الحج جهاد والعمرة تطوع

Haji adalah jihad, waktu umroh hanya tathawwu’.

Alasan lain yang dijadikan pegangan bahwa ibadah umroh adalah sunnah adalah bahwa umroh merupakan nask (ibadah) yang pelaksanannya tidak ditentukan waktu, maka ia pun tidak perlu sebagaimana halnya thawaf mujarrad.
Pendapat Kedua: Umroh Hukumnya Wajib, Terutama bagi Orang-orang yang Diwajibkan Haji.

Pendapat ini dianut oleh Imam Asy-Syafi’i menurut versi yang paling sahih di pada ke dua pendapatnya, Imam Ahmad menurut versi lain, Ibnu Hazm, sebagian ulama mazhab Maliki, kalangan mazhab Imamiyyah, Asy-Sya’bi, dan Ats-Tsauri.

Pendapat ini terhitung merupakan pendapat mayoritas ulama berasal dari kalangan kawan baik dan lainnya, dan mereka bersepakat bahwa pelaksanaannya hanya sekali seumur hidup sebagaimana halnya haji

Pendapat Terkuat Mengenai Hukum Ibadah Umroh

Pendapat yang terkuat didalam perihal ini, ‘umroh itu perlu bagi yang dapat sekali seumur hidup. Sedangkan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah (mu’akkad) dalilnya diakui lemah (dho’if) sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Jadi bagi yang mampu, sekali seumur hidup direkomendasi sehingga mengusahakan menunaikan ibadah umroh.

Ibadah ‘umroh dapat segera dilakukan bersama dengan ibadah haji yakni bersama dengan langkah lakukan haji secara tamattu’ atau qiran. Karena didalam haji tamattu’ dan haji qiran sudah ada ‘umroh di dalamnya. Sehingga keutamaan ibadah umroh dapat disejajarkan bersama dengan ibadah haji yang jadi rukun Islam dan diwajibkan bagi yang mampu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *